RajaKomen

Haikal Hassan Masuk Jajaran Tokoh Indonesia yang Diakui Kampus Internasional

21 Jun 2026  |  51x | Ditulis oleh : Admin
Prof Dr Haikal Hassan

Busan, Korea Selatan — Nama Ahmad Haikal Hassan kembali mencuri perhatian di kancah internasional setelah menerima gelar Profesor Kehormatan (Professor Emeritus) dari Silla University, Busan, Korea Selatan, pada pertengahan Juni 2026. Penghargaan akademik bergengsi tersebut menempatkan Haikal Hasan dalam jajaran tokoh Indonesia yang memperoleh pengakuan dari institusi pendidikan tinggi dunia atas kontribusi dan kiprahnya di bidang yang digeluti.

Pemberian gelar kehormatan ini menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan diplomasi halal Indonesia yang terus berkembang. Pengakuan dari kampus internasional tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi Haikal Hasan dalam membangun, memperkuat, dan memperluas ekosistem halal, baik di tingkat nasional maupun global.

Dalam beberapa tahun terakhir, isu halal memang berkembang jauh melampaui persoalan sertifikasi semata. Halal kini menjadi bagian dari standar kualitas yang semakin diperhatikan oleh berbagai negara. Karena itu, kontribusi Indonesia dalam sektor ini mulai mendapat perhatian dari berbagai lembaga pendidikan, organisasi internasional, dan pelaku industri global.

Ahmad Haikal Hasan yang akrab disapa Babe Haikal menerima penghargaan tersebut dalam rangkaian kegiatan akademik yang melibatkan Silla University dan BIC Halal Korea. Kehadirannya tidak hanya sebagai pejabat negara, tetapi juga sebagai figur yang dinilai berhasil mendorong pemahaman halal sebagai sebuah ekosistem yang mencakup pendidikan, penelitian, inovasi, hingga pengembangan sumber daya manusia.

Pengakuan Akademik yang Membanggakan Indonesia

Penganugerahan Profesor Kehormatan dari Silla University menjadi simbol pengakuan internasional terhadap peran Indonesia dalam pengembangan sistem jaminan produk halal. Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis dalam mendorong perkembangan industri halal global.

Penghargaan ini juga menunjukkan bahwa gagasan dan kebijakan yang dikembangkan Indonesia mulai mendapat tempat di berbagai forum internasional. Tidak hanya sebagai pasar halal terbesar, Indonesia kini semakin diperhitungkan sebagai negara yang mampu memberikan kontribusi dalam pengembangan standar halal dunia.

Sebagai Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Haikal Hassan dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat kolaborasi lintas negara, memperluas kerjasama kelembagaan, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berkaitan dengan industri halal.

Menurut penilaian Silla University, salah satu faktor utama yang melatarbelakangi pemberian penghargaan tersebut adalah kontribusi Haikal Hasan dalam memperluas pemahaman masyarakat mengenai konsep halal. Ia dinilai berhasil mendorong halal sebagai sistem yang mencakup berbagai sektor, mulai dari makanan dan minuman, kosmetik, farmasi, jasa, hingga rantai pasok internasional.

Halal Bukan Sekadar Label Keagamaan

Di era modern saat ini, halal semakin dipahami sebagai bagian dari standar mutu produk. Konsumen tidak hanya melihat halal dari sisi keagamaan, tetapi juga sebagai indikator keamanan, kebersihan, transparansi, dan kualitas proses produksi.

Karena alasan itulah produk halal kini semakin diminati oleh masyarakat lintas negara dan lintas agama. Banyak konsumen non-Muslim yang memilih produk halal karena percaya pada sistem pengawasan dan jaminan kualitas yang menyertainya.

Dalam pidato penerimaannya, Haikal Hassan kembali menegaskan visi yang selama ini menjadi salah satu pesan utama yang ia bawa dalam berbagai forum internasional, yaitu “Halal is for all” atau halal untuk semua.

Pesan tersebut menegaskan bahwa halal dapat menjadi bahasa universal yang mampu menjembatani berbagai kebutuhan masyarakat global terhadap produk yang aman, terpercaya, dan memiliki standar yang jelas. Pendekatan inilah yang dinilai semakin relevan di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kualitas produk yang mereka gunakan sehari-hari.

Membangun Ekosistem Halal yang Lebih Luas

Selama ini sebagian masyarakat masih menganggap halal identik dengan sertifikasi produk. Padahal, ruang lingkup industri halal jauh lebih besar dibandingkan sekadar penerbitan label atau sertifikat.

Ekosistem halal mencakup banyak aspek penting seperti pendidikan, penelitian, laboratorium, audit, pengawasan, logistik, teknologi digital, pemasaran, hingga kerja sama internasional. Karena itu, pengembangan sektor halal membutuhkan sinergi dari berbagai pihak, baik pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, maupun lembaga internasional.

Penganugerahan gelar Profesor Kehormatan kepada Haikal Hasan memperlihatkan bahwa isu halal kini telah menjadi bagian dari kajian akademik global. Kampus dan lembaga pendidikan tinggi memiliki peran penting dalam mencetak tenaga ahli halal yang mampu menjawab kebutuhan industri modern.

Di masa depan, kebutuhan terhadap auditor halal, peneliti, analis laboratorium, konsultan industri, dan pengembang teknologi halal diperkirakan akan terus meningkat. Oleh karena itu, penguatan pendidikan halal menjadi salah satu investasi penting bagi kemajuan industri ini.

Kolaborasi Internasional untuk Masa Depan Industri Halal

Dalam rangkaian kegiatan di Busan, juga dilakukan penandatanganan kerja sama antara Silla University dan BIC Halal Korea. Kolaborasi tersebut difokuskan pada pengembangan riset, pendidikan halal, sertifikasi internasional, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

Kerja sama ini dianggap strategis karena pasar halal dunia terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Negara-negara seperti Korea Selatan mulai melihat sektor halal sebagai peluang besar yang dapat mendorong pertumbuhan industri makanan, kosmetik, farmasi, pariwisata, dan produk gaya hidup lainnya.

Bagi Indonesia, kerja sama tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas diplomasi halal sekaligus memperkuat posisi sebagai salah satu pusat pengembangan standar halal dunia. Melalui kolaborasi akademik dan kelembagaan, berbagai inovasi baru dapat lahir guna menjawab kebutuhan pasar global yang terus berkembang.

Indonesia di Tengah Persaingan Industri Halal Dunia

Saat ini banyak negara, termasuk yang mayoritas penduduknya bukan Muslim, mulai aktif mengembangkan produk dan layanan berbasis halal. Korea Selatan, Jepang, Thailand, Australia, hingga Brasil merupakan contoh negara yang melihat halal sebagai peluang ekonomi yang menjanjikan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa halal telah berkembang menjadi bagian dari kompetisi ekonomi global. Oleh sebab itu, Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar konsumen, tetapi harus mampu menjadi pusat inovasi, pusat pendidikan, dan pusat pengembangan standar halal yang diakui dunia.

Pengakuan yang diberikan kepada Haikal Hassan menjadi salah satu indikator bahwa kontribusi Indonesia mulai diperhitungkan secara lebih serius oleh komunitas internasional. Namun demikian, pengakuan tersebut juga membawa tanggung jawab besar untuk terus memperkuat sistem halal nasional.

Diplomasi Halal sebagai Kekuatan Indonesia

Selain memiliki nilai akademik, penghargaan yang diterima Haikal Hassan juga memiliki makna diplomatik yang cukup penting. Dalam era globalisasi, pengaruh sebuah negara tidak hanya dibangun melalui kekuatan ekonomi atau budaya, tetapi juga melalui nilai dan sistem yang dipercaya masyarakat dunia.

Halal berpotensi menjadi salah satu instrumen soft power Indonesia. Melalui pengembangan standar halal yang kredibel dan terpercaya, Indonesia dapat memperluas kerja sama internasional, meningkatkan ekspor, memperkuat riset bersama, serta membuka akses pasar baru bagi pelaku usaha nasional.

Jika dikelola secara konsisten dan berkelanjutan, diplomasi halal dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi Indonesia. Pelaku UMKM, industri makanan, kosmetik, farmasi, fesyen, hingga sektor pariwisata berpotensi memperoleh manfaat yang besar dari semakin meningkatnya kepercayaan dunia terhadap sistem halal Indonesia.

Momentum Baru Menuju Pusat Halal Dunia

Gelar Profesor Kehormatan dari Silla University yang diberikan kepada Ahmad Haikal Hasan menjadi momentum penting bagi perkembangan industri halal nasional. Penghargaan ini bukan hanya bentuk pengakuan terhadap sosok Haikal Hassan, tetapi juga cerminan dari meningkatnya perhatian dunia terhadap kontribusi Indonesia dalam sektor halal.

Lebih dari sekadar penghargaan akademik, peristiwa ini menunjukkan bahwa halal kini telah menjadi isu strategis yang berkaitan dengan pendidikan, ekonomi, teknologi, penelitian, dan diplomasi internasional. Ketika Haikal Hassan kembali menyampaikan pesan “Halal is for all”, ia sekaligus menegaskan arah baru industri halal yang semakin inklusif, modern, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat global.

Dari Busan, Korea Selatan, Indonesia kembali menunjukkan potensinya sebagai salah satu pemain utama dalam industri halal dunia. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa pengakuan internasional tersebut dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata untuk memperkuat ekosistem halal nasional dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat halal global pada masa mendatang.

Berita Terkait
Baca Juga: